Sejarah Susteran FSGM di Paroki

Pada tahun 1988 Suster M Tobia selesai tugas di Sekretariat Komisi Kepemudaan KWI, setelah berpengalaman merintisnya melalui sekretariat dan berkeliling Indonesia selama hampir sepuluh tahun. Kontrak kerja Propinsi-KWI dalam hal ini tidak akan diperpanjang lagi. Selanjutnya Suster M Tobia memikirkan kembali keinginan yang telah lama diidamkan untuk hidup sederhana dan menghayati kemiskinan secara nyata, meniru hidup Fransiskus dan sejauh mungkin kembali kepada semangat Muder. M Anselma pendiri Kongregasi. Muder Theresia pemimpin propinsi dalam sidang Dewan Penasihat propinsi mempertimbangkan tugas Sr. M Tobia selanjutnya. Sebagai teman hidup dan kerja ditunjuk Sr. M Joanni. Untuk itu Pada hari pesta Yesus naik ke surga, Kamis tanggal 12 Mei 1988 Muder. M Teresia didampingi Sr. M Magdalena, memberitahukan kepada mereka berdua secara bergantian, bahwa boleh membuka komunitas baru di Jakarta, atau paling jauh di Jawa Barat. Dalam komunitas baru itu Suster berdua diberi kesempatan untuk mewujudkan dan menghayati hidup sederhana seperti pendiri Kongregasi Muder. M Anselma. Hidup ditengah tengah umat, untuk umat dan melayani umat. Untuk biaya hidup sehari-hari di keluarkan dari gaji yang diterima. Semua urusan rumah tangga dikerjakan sendiri tanpa pembantu. Satu cita-cita dan harapan yang pernah mereka berdua usulkan beberapa waktu sebelumnya.

Berikut ini catatan yang ditulis Sr. M Joanni dan sebagian dirangkai dengan catatan lain tentang awal dan kelanjutan usaha mereka. Sore hari sesudah menerima tugas dari Muder. M Teresia, Sr. M Joanni menilpon seorang teman untuk melamar pekerjaan sebagai guru agama di SMA Bunda Mulia, dan diterima. Pagi harinya kami berdua mendatangi pastor paroki dimana SMA Bunda Mulia itu terletak, yaitu Paroki Bunda Hati Kudus, Kemakmuran Jakarta Barat. Pastor itu menolak karena baru saja komunitas YMY harus pergi dari paroki itu. Pastor itu tidak mau dituduh mengusir YMY dan mendatangkan suster lain. Dari situ kami singgah ke Propinsialat MSC. Di depan Pastor Propinsial kami menceritakan kegagalan kami dalam melamar tinggal di paroki ini. Propinsial sangat mengerti alasan penolakan itu. Beliau membawa kami ke paroki Cideng yang dikelola oleh MSC. Pastor Paroki kebetulan sedang tidak di pastoran, karena sedang berlangsung penguburan umat. Siang itu kami pulang ke Kampung Ambon sambil berpikir dan berdoa tentunya. Akhirnya Tuhan memberi jalan kepada kami.

Sementara itu Md. M Theresian dan Sr. M Magdalena menghubungi Bapa Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ (Alm) untuk membicarakan rencana penugasan bagi kedua suster. Bapa Uskup memberikan beberapa kemungkinan, sebab selalu ada lowongan pekerjaan di KAJ bagi para suster. Bahwa selalu ada lowongan “kerja” Bapa Uskup berkali-kali menegaskannya dalam kesempatan bertemu pribadi, konsultasi resmi maupun melalui visitasi komunitas di Kampung Ambon yang beliau adakan dua tahun sekali. Mungkin juga hal ini beliau sampaikan juga kepada para religious di komunitas-komunitas kongregasi lain.

Hari berikutnya setelah pertemuan dengan Propinsial MSC, kami menelpon Bapa Uskup minta waktu untuk bertemu. Pagi itu juga Bapa Uskup Agung Jakarta menerima kami dengan ramahnya. Kami berdua mengungkapkan bahwa diberi kesempatan untuk membentuk komunitas baru. Kami menanyakan kepada Bapak Uskup, dimana kiranya yang membutuhkan kami, atau dimana ada tempat untuk kami dapat berkarya? Ketika itu Sr. M Tobia sudah dikenal Bapa Uskup karena tugasnya di KWI, sedangkan Sr. M Joanni belum dikenal oleh beliau. Beliau bertanya tentang pekerjaan Sr. M Joanni. Waktu itu Sr. M Joanni adalah guru agama di SD St Fransiskus Kampung Ambon dan juga membantu di paroki. Kemudian Bapa Uskup menawarkan kepada kami berdua untuk menjadi Kepala SMA dan Kepala SMP di Yayasan Ricci yang sedang kosong karena ditinggalkan oleh Suster SND. Dengan berat hati kami menolak untuk menjadi Kepala Sekolah. Kami ingini mengalami jadi karyawan biasa, menjadi bawahan awam. Bapa Uskup memahami dan menangkap maksud dari cita-cita kami. Maka beliau tidak memaksakan. Beliau mengijinkan kami tinggal di Paroki Santa Maria De Fatima Toasebio. Pekerjaan dan tempat tinggal beliau yang akan mengusahakan. Syukur kepada Allah. Kami berdua sangat senang.

Sr. M Joanni merencanakan liburan ke Lampung dan menyempatkan diri bertemu Muder. M Theresia untuk melaporkan perkembangan rencana komunitas baru, dan juga hasil pertemuan dengan Bapa Uskup. Kemudian Md. M Theresia, Sr. M Magdalena dan Sr. M Tobia menghadap Bapa Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ (Alm). Setelah mendapat kejelasan tentang kemungkinan karya dan tempat, ijin untuk membuka karya baru di komunitas baru diajukan kepada Muder Agung oleh Muder. M Theresia. Selama waktu menunggu proses kontrak kerja antara Propinsi dan Keuskupan dibicarakan dan direncanakan oleh Pemimpin propinsi dan Uskup.

Tanggal 9 Juni 1988 Muder Agung Md. M Margareta Maria Brand dan Vikaris beliaru Sr. Marianna tiba di Jakarta dalam rangka mengawali visitasi Jenderal di Propinsi St Yusuf Indonesia. Pada tanggal 10 Juni 1988 pagi, Md M Margareta Brand, Sr. M Marianna, Md. M Theresia dan Sr. M Magdalena menghadap Bapa Uskup. Sore itu juga Muder Agung mengumumkan bahwa Sr. M Tobia dan Sr. M Joanni akan diutus membuka komunitas baru di Toasebio Jakarta Barat. Rumah kecil mungil terletak diantara perumahan guru dan masyarakat di belakang gereja milik paroki yang semula di tempati oleh parah Suster SND, diperbaiki oleh Yayasan Ricci sehingga layak untuk ditempati.

Tanggal 29 Juni pukul 12.00 siang pada hari pesta Petrus Paulus diadakan misa perutusan di kapel Susteran Kampung Ambon. Misa dipersembahkan oleh Pater Ben Tentua OFM. Dihadiri oleh Sr. M Magdalena sebagai utusan dari Propinsi untuk menghantar dan mengiringi pembukaan komunitas baru di Toasebio, para suster, guru-guru SD St Fransiskus Kampung Ambon dan beberapa umat yang selama ini bekerja sama dengan Sr. M Joanni di Paroki St Bonafentura di Pulo Mas. Sesudah misa makan bersama lalu Suster M Tobia dan Suster M Joanni diantar ke Toasebio. Tepat pukul 15.00 tanggal 29 juni 1988 tahun itu juga mereka sampai di Gereja Toasebio. Disambut oleh Pastor Vinzenco SX (Alm), Dewan Paroki dan beberapa umat. Sebagai Pastor Paroki dalam sambutannya Pastor Vinzenco mengatakan “Tugas Suster disini adalah mendampingi umat, membimbing umat, melayani dan memberi kehangatan kepada umat.” Tugas itu pada permulaan dirasakan tidak terlalu jelas. Dari Propinsi Sr. M Tobia mendapat tugas untuk pariki sedangkan Sr. M Joanni di Sekolah Ricci sesuai pembicaraan dengan Uskup dan pastor paroki, serta ketua yayasan Ricci. Namun keesokan harinya pastor Vinzenco langsung mengajak kedua suster berkeliling mengunjungi umat dari rumah ke rumah sambil membawa Komuni Kudus bagi mereka yang sakit dan lanjut usia. Kadang-kadang kedua suster duduk mendengarkan mereka. Dari hari ke hari, mereka makin dikenal, diterima dan dicintai umat. Rumah yang kecil menjadi tempat berkumpul, tempat mereka singgah, tempat mereka mencari ketenangan. Sering juga mereka berdoa bersama suster. Melihat karya para suster yang berkembang ini paroki dan yayasan Ricci memberikan perbaikan rumah bekas perumahan yang telah dikosongkoan untuk digunakan oleh para suster. Dua rumah disatukan. Dua ruang tamu menjadi ruang tamu sekaligus sebagai tempat untuk umat berkumpul. Satu ruang dijadikan kapel, dapur dan ruang tidur diperbaiki. Lantai, plafond an dinding dibongkar seperlunya, diperbaiki atau diganti dengan bahan baru. Seluruh rumah menjadi terkesan lebih luas dan nyaman walau tetap kecil.

Di sekolah Ricci mula-mula Sr. M Joanni mengajar di SD, bina iman di SMP dan bina iman di SMA. Karena keterbatasan waktu dan juga karena kesehatan yang kurang mendukung, maka tugas mengajar di SD di lepas. Tinggal di SMA yang masih ditekuninya.

Situasi Paroki St. Maria De Fatima Toasebio adalah paroki transit. Orang selalu dating dan pindah. Umat sebagian besar berasal dari keturunan Tionghoa. Katekumen selalu banyak. Ada kelompok Natal, kelompok Juni, kelompok Paskah dan kelompok anak. Setiap tahun yang dipermandikan rata-rata 400 orang. Kedua suster tidak mungkin menangani katekumen yang begitu banyak, maka mereka mengajak dan mengkader orang-orang yang mau terlibat mengajar para katekumen. Mereka disiapkan dengan pendalaman iman dan persiapan bahan secara bertahap dari minggu ke minggu. Pada pertengahan minggu mereka berkumpul di rumah untuk persiapan bahan, dan pada hari Minggu mereka mengajar katekumen dalam kelompok kecil sekitar 20 orang. Dengan cara seperti itu kedua suster mengharapkan beberapa sasaran: iman para guru katekumen terbina, mereka menjadi kelompok kader yang kuat dalam paroki. Mereka adalah penggerak dalam paroki. Untuk para katekumen juga baik karena kelompoknya kecil, lalu mereka menjadi akrab satu sama lain dan saling mengenal. Pelajaran bias diberikan dengan lebih intensif dan dapat menyapa satu persatu. Para suster merasa bahwa sungguh hadir di paroki, bukan hanya tinggal. “Kami menjadi milik umat dan dicintai umat. Umat boleh datang kapan saja bila membutuhkan bantuan kami. Kami berusaha untuk mendahulukan umat dari pada keperluan pribadi. Yang datang tak ada yang ditolak. Kristus selalu mengutamakan pribadi yang datang kepadanya, demikianlah kami belajar kepada-Nya, hidup untuk orang lain yang membutuhkan. Adakalanya kami tidak menepati jam-jam doa. Itu berarti kami harus pandai mencari jam doa sendiri. Aturan komunitas disesuaikan dengan pelayanan kepada umat..”

Setelah berjalan beberapa waktu, propinsi memandang baik untuk menambah anggota komunitas juga dengan memenuhi harapan dari Bapa Uskup untuk keperluan di sekolah dan paroki. Sr. M Ria, Sr. M Anita dan Sr. M Clementin silih berganti mendapat tugas untuk paroki atau sekolah Ricci, sementara itu Sr. M Joanni diminta untuk ikut mengelola di tingkat Yayasan dengan secara aktif menjadi anggota Yayasan Ricci dalam rapat dewan pengurus yayasan maupun memperhatikan siswa-siswi di sekolah setiap hari dengan hadir di antara mereka. Sr. M Anita dan Sr. M Clementin mendapat tugas lain setelah hanya sebentar tinggal di komunitas Toasebio. Sr. M Ria mendapat panggilan tugas di Timor-Timur. Kemudian Sr. M Augusta ditugaskan untuk kegiatan paroki. Dan Sr. M Erna untuk karya social paroki. Sr. M Tobia secara resmi tidak lagi aktif di paroki meskipun masih membantu juga. Dia mengajar di Paroki Jerman di Jakarta, untuk bina iman anak-anak dan memperhatikan kebutuhan keluarga perkawinan campur dari dua bangsa. Setelah satu tahun berkarya dalam pendampingan mahasiswa di Depok, dalam tahun ini diharapkan dapat mendampingi mahasiswa Katolik yang menuntut ilmu di Universitas Tarumanegara bergabung dengan Romo Sugiarto SJ, sesuai penugasan dari Uskup Agung Jakarta.

Bulan Juni 1994 Sr. M Joanni resmi meninggalkan Toasebio dan Ricci untuk mendapat tugas di Seminari Menengah Palembang. Sepeninggal Sr M Joanni anggota komunitas menjadi tiga orang; Sr. M Tobia, Sr. M Augusta dan Sr. M Erna.